Tulisan ini adalah sambungan status yang kemarin seputar keutamaan memaafkan.
Saya menjanjikan membahas tentang, "Bagaimana jika kesalahan itu fatal ? Apakah harus diberi maaf??"
Fatal ini bisa beragam.
Bisa seputar kehormatan diri atau keluarga. Bisa seputar materi, nama baik.. atau lainnya yang menurut kita teramat besar dampaknya.
Apakah yang demikian harus dimaafkan juga?? Perhatikan beberapa indikator ini.
1. Jika kesalahan yang sama sudah terjadi berulang kali. Sudah dimaafkan diulang lagi.
2. Perilaku salah tersebut didasari unsur kesengajaan, dan niat jahat (yang terkonfirmasi).
3. Dampak kerusakannya sangatlah besar. Terlebih jika terkait keselamatan, kehormatan, nama baik dan materi yang tak sedikit.
Maka boleh kita membalasnya.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Alloh. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. Asy-Syura: 40)
Karena memaafkan saja, terkadang tidak menjadi sebab kebaikan bagi sebagian orang.
Dalam kasus demikian, Islam sangat realistis. Dibolehkan kita memberi balasan yang setimpal dengan niat agar balasan tersebut menjadi wasilah bagi si pelaku untuk berbenah, menyesali diri dan membaik sikapnya.
Karena memang ada sebagian manusia itu tak kunjung jadi baik setelah diberi maaf berkali-kali.
Malah dia menganggap, orang-orang yang memberi maaf itu lemah dan bisa dipermainkan. Dan ini jadi alasan baginya untuk mengulangi perbuatannya lagi.
Dalam hati ia berpikir..
"Paling, nanti juga dimaafkan.."
Alhasil, tumbuh jadi karakter yang merusak sekitarnya jika dibiarkan.
Nah.. kalau ketemu dengan model manusia seperti di atas. Islam membolehkan kita itu memilih opsi membalas.
Sebab kata "ash-laha" dalam ayat di atas juga bisa bermaksud "Perbaikan".
Artinya.. berikan maaf, tapi juga pastikan hal itu jadi perbaikan.
Jangan mudah memberi maaf kepada mereka yang dengan maaf itu ternyata dia tidak memperbaiki dirinya. Berikan balasan yang setimpal juga jika perlu.
Maafkan tetep. Balasannya ya iya.
Membalas di sini tidak selalu berkonotasi perilaku yang serupa. Sebab jika serupa, bisa jadi kita akan tergolong sama jahatnya. Nggak ada beda dengan mereka.
Membalas pencuri bukan berarti harus dengan mencuri barang miliknya.
Tapi misalnya, dengan melaporkannya ke pihak berwajib.
Termasuk pasangan yang senang bermaksiat.
Teman yang jahatnya sudah keterlaluan.
Saudara yang perilakunya melewati batas.
Boleh kita mengambil tindakan yang sesuai.
Jika bisa memaafkan.. hal itu pahala yang besar di sisi Alloh. Jika dirasa perlu memberi pelajaran dulu. Itu pun boleh.
Tetap maafkan di dalam hati, tapi berikan balasan setimpal atas perbuatannya. Terlebih jika itu sudah amat sangat fatal dan berulang kali.. demi perbaikan bagi dirinya. Jangan diam dan sekedar memaafkan tanpa diiringi dengan pembelajaran.
Ambil sikap.
Pilihan balasan yang sesuai. Agar mereka tersadar dan bisa memperbaiki. Bahwa apa yang mereka lakukan itu merugikan orang lain.
Jangan ragu masuk ke jalur hukum. Pengadilan. Usut. Dan sejenisnya. Agar jadi pelajaran.