Salah satu hal yang saya pelajari setelah membangun rumah tangga yang hal ini bisa membawa perubahan besar. Meski mungkin bagi sebagian orang dianggap sepele adalah..
Berani jujur atas apa yang kita rasakan.
Tidak selalu perkataan manis saja yang harus menghiasi perbincangan. Ada kalanya kalimat pahit kebenaran pun harus disampaikan.
Ada terlalu banyak pasangan yang menunda atau bahkan menghindari pembicaraan pahit kejujuran karena tak ingin ada masalah.
Padahal sejatinya, itu menunda masalah yang lebih besar di kemudian hari
Apa yang tidak kita sampaikan hari ini, akan lebih sulit lagi menyampaikannya di waktu nanti.
Namun tentu saja..
Ada tahapan untuk bicara tentang kejujuran. Jangan ujug-ujug alias tiba-tiba.
Ibarat adegan.. harus ada set-nya, prolog-nya, intro-nya.
Dimulai dari:
1. Membuat aturan bersama dulu. Sepakati kapan boleh bicara jujur, dalam nuansa apa, dan bersepakat bahwa semua pihak akan menghadapinya dengan pikiran jernih
Bukan mengedepankan perasaan apalagi emosi sesaat. Karena pembicaraan tanpa pikiran jernih dan akal sehat akan berakhir dengan pertengkaran.
2. Pembicaraan jujur harus bertujuan untuk mencari kebaikannya, hikmahnya, dan langkah setelahnya.. bukan untuk saling menjatuhkan, menghinakan apalagi menyudutkan pasangan.
Jika tidak ada niat seperti di poin ke 2 ini, sebaiknya jangan lakukan.
Sebab hanya akan berujung pada hilangnya kepercayaan, hubungan merenggang dan bahkan awal mula kebencian.
3. Harus sama-sama menyepakati prinsip, bahwa jujur itu baik. Itu perintah agama
Jangan sampai kejujuran (yang pahit) seolah lebih buruk kedudukannya daripada kebohongan yang manis. Jika begitu keadaannya, jangan salahkan pasangan lebih senang bohong daripada jujur.
Semua orang punya kesalahan dan semua orang punya peluang salah dalam mengambil keputusan.
Berani bicara jujur adalah bukti bahwa pasangan kita masih menghormati lembaga bernama rumah tangga dan tersirat keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Jangan malah dihancurkan dengan tanggapan yang buruk dan emosi tanpa kendali.
Karena pernikahan, sejatinya adalah perjalanan menghadapi kenyataan. Bukan membangun kisah semu penuh kepalsuan.
Kalau dengan pasangan sendiri saja sudah tidak mampu terbuka, lalu dengan siapa lagi kau bisa hidup dengan kejujuran dan kebenaran tanpa beban..?