Jika seorang istri sudah mulai sibuk dengan 3 perkara ini.. Maka tak perlu menunggu lama untuk sebuah keluarga jatuh perlahan dalam kekacauan.
1. Dia mulai sibuk dengan lelahnya.
Rasa lelah adalah pintu gerbang pembuka bagi setan untuk menghancurkan seorang ibu.
Ketika seorang ibu kelelahan, maka ia akan mulai lupa untuk mengingat Alloh. Ia lupa dengan ibadahnya. Hatinya mulai fokus dengan beratnya beban, bukan dengan besarnya pahala.
Kalau sudah demikian... tak perlu menunggu waktu lama untuk masuk ke tahap kedua. Yaitu menyalahkan.
Menyalahkan anaknya yang berantakan.
Menyalahkan suaminya yang tak pengertian.
Akhirnya semua anggota keluarga akan dipandang sebagai lawan di alam bawah sadarnya.
Karena kelelahan sering kali membuat seseorang mulai membangun sistem pertahanan alami bernama menyalahkan.
"Gara-gara si dia, si ini, si itu.."
Karenanya wahai para suami, anak-anak..
Jangan biarkan istrimu atau ibumu terlalu kelelahan. Bantu tugasnya, dan ringankan apa yang menjadi bagiannya.
2. Mulai sibuk membandingkan keadaan keluarganya dengan keluarga orang lain.
Seorang istri atau seorang ibu yang mulai gemar membandingkan keadaan keluarganya dengan keadaan keluarga orang lain adalah benih hilangnya rasa syukur.
Baginya, akan selalu ada yang kurang pas. Akan selalu ada yang salah.
Semua nampak tak ada yang bisa disyukuri. Pikirannya akan selalu mengarahkan untuk mengeluh dan menilai "harusnya begini dan harusnya begitu."
Solusinya?? Para suami, ajak diskusi apa-apa yang sebenarnya diinginkan oleh istrimu kaitannya dalam pencapaian rumah tangga dari tahun ke tahun.
3. Asyik berkumpul bukan untuk ilmu.
Seorang istri adalah wasilah ketenangan suami. Pun sebagi ibu, ia jadi tempat untuk keluarganya merasa tenang.
Sekurang-kurangnya keadaan suami.. jika istrinya tetap mampu tenang, maka suaminya tak akan salah jalan.
Sepanik-paniknya seorang anak, jika ada ibu yang mampu menenangkan hatinya dengan hikmah dan solusi, perlahan ketenangannya akan kembali.
Dan itu semua butuh ibu yang cerdas. Butuh ilmu. Punya ilmu itu menenangkan.
Ibarat orang yang naik motor dan mendapati motornya tiba-tiba macet. Mereka yang tak tahu ilmu mesin akan bingung. Tapi bagi yang paham, tentu ia akan tenang karena tahu harus mulai dari mana mengecek masalahnya.
Seorang ibu yang sibuk di luar rumah tapi bukan untuk ilmu (khususnya ilmu agama), akan jadi sebab goyangnya kestabilan rumah tangga.
Datang ke majelis ilmu membantu memudahkan hati untuk tenang. Dan mengingatkan hati untuk senantiasa mengingat Alloh.
Mungkin itulah sebabnya.. ketika Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah ﷺ meminta pembantu karena lelahnya mengurus rumah tangga, Rasulullah ﷺ justru memberikan putrinya amalan berdzikir. "Subhanallah, Alhamdulillah dan Allohu akbar."
Karena mengingat Alloh membuat hati sadar.
Hati yang sadar membuatnya mudah bersyukur.
Dan hati yang bersyukur, cenderung memunculkan ketenangan.