Banyak orang menginginkan keluarganya, rumah tangganya, kediamannya seperti surga. Nyaman dan tentram.. Baiti Jannati.
Namun ia lupa bahwa surga hanya akan dihuni oleh bidadari yang tidak sedih dan menangis.
Jika seorang istri merasakan "neraka" di rumah suaminya.. maka jangan harapkan keluargamu akan sakinah.
Tulisan ini bukan bermaksud membela kaum hawa.. namun banyak kejadian yang saya temui di lapangan dari ratusan pasien konseling kami memiliki sumber masalah yang sama. Ketidakharmonisan rumah tangga, karena sang istri merasa tidak dilindungi bahkan oleh suaminya sendiri.
Sudah keluar dari rumah orang tua berharap mendapatkan tempat baru untuk bernaung, namun malah merasa sendirian dan terasingkan.
Suaminya lupa tidak menciptakan "Surga" bagi istrinya di rumah.
Menciptakan surga bukan berarti diberi harta berlimpah dan kemewahan. Tapi lebih kepada kondisi psikologis yang diberikan.
Banyak suami yang tidak mampu membela istrinya di depan keluarganya (pihak suami). Sehingga sang istri merasakan tidak mendapat perlindungan dari suaminya sendiri.
Meskipun orang tua bagi seorang suami adalah utama, namun bukan berarti kemudian tidak memberikan perlindungan yang proporsional.
Wahai para suami..
Lindungi istrimu dari tuduhan yang tidak benar. Ceritakan kebaikannya jika ada.. jangan diam.
Namun dengan cara yang tetap lembut, dengan adab dan hindari perdebatan.
Sampaikan dengan perlahan kebaikan yang ada..
Hal yang sebenarnya jika tak sesuai cerita. Dan dengarkan sisi cerita istrimu, alasannya, dan latarbelakang peristiwa jika ada kabar yang tak kau lihat sendiri kejadiannya.
Maka tak heran jika saran utama bagi setiap pasangan setelah menikah adalah tinggal di rumah sendiri. Jika belum mampu punya rumah sendiri, ya ngontrak.
Tak apa kecil. Yang penting berdaulat.
Ini sekaligus jadi pelajaran. Jangan besarkan biaya resepsi. Mending biaya yang besar itu dipakai untuk beli rumah atau ngontrak jangka panjang. Ini lebih bijak.
Jika pun masih harus bersama dengan orang tua (suami) karena alasan tertentu seperti menjaga orangtua di masa tua, orang tua sakit atau karena lainnya. Tak apa.. tapi perhatikan yang di berikut ini.
Maka saran saya bagi para suami.. sediakan kemerdekaan untuk istrimu di 3 wilayah.
1. Kamar Tidur
• Jelas.. ini adalah wilayah paling pribadi. Biarkan ini jadi "surganya" istrimu. Biarkan dia yang menatanya. Disitulah dia menyimpan barang-barang kesayangannya atau apa saja. Jangan biarkan siapapun mengintervensi wilayah ini.
2. Dapur
• Pisahkan dapur istri dan orang tua jika memungkinkan. Setidaknya, sediakan 1 space, tak perlu besar yang penting cukup untuk masak dengan kompor sendiri dan tempatnya menyimpan bahan dapurnya sendiri. Gula, teh, kopi, minyak dan sejenisnya. Karena tak jarang.. urusan gula, teh dan isi gas bisa jadi sumber awal saling curiga antara mertua dan istri. Ini potensi jadi masalah.
3. Kamar Mandi
• Jika harus tinggal serumah dengan orangtua, upayakan ada 1 kamar mandi khusus yang terpisah dari orang lain untuk istrimu. Karena di sini juga merupakan letak kehormatannya. Ini wilayah pribadinya. Contoh, sebagai tempat merendam cucian yang belum sempat dicuci. Kalau orang lain melihat, nanti jadi masalah. Dikira males, padahal ya karena belum sempat saja. Tempat beliau meletakkan pakaian pribadi. Dan lain-lain..
Tiga wilayah ini harus diusahakan jika belum bisa berpisah dari orang tua.
Sebab jika tidak... khawatir lambat laun, ketenangan keluarga akan memudar dan menghilang.
Tak perlu mengajak istrimu ke Capadocia untuk menyenangkannya. Tiga tempat itu saja kau berikan, istrimu akan tenang dan bahagia.
Kenapa nasihat ini tertuju seolah hanya untuk suami?? Karena yang punya kekuatan dan kemampuan untuk mengupayakan hal di atas adalah seorang laki-laki. Dan itulah salah satu bentuk tugas dari Alloh karena sesungguhnya "Ar-rijalu Qowwamuuna ala nisaa".
Laki-laki itu Pemimpin..
Dan pemimpin itu melindungi.
Lindungi istrimu di rumahmu.. niscaya sakinah rumah tanggamu.