Tidak semua hal harus diposting. Kitalah yang menentukan, mana sisi kehidupan yang perlu kita bagikan dan mana yang sebaiknya disimpan saja.
Itulah prinsip saya..
Yang saya bagikan, berarti saya mengizinkan orang lain untuk mengetahuinya dan mengambil nasihat dari hal itu. Sementara yang tidak saya posting, berarti menurut saya itu bukan wilayah yang perlu diketahui publik dan bisa jadi karena disitulah ada keburukan saya yang harus saya perbaiki terlebih dulu.
Kita tidak punya kewajiban menginformasikan semua hal terkait hidup kita kepada orang lain.
Hari ini makan apa, beli apa, punya apa, sedang apa, dengan siapa dan mengalami apa. Itu semua tak wajib untuk dipublikasikan.
Sebab.. salah satu seninya hidup di dunia ini adalah kemampuan menyembunyikan beberapa hal dari orang lain.
Banyak masalah rumah tangga yang kemudian jadi bahan ghibah, gunjingan dan bahkan viral. Itu karena ketidakmampuan kita menjaga aib.
Banyak kekurangan diri yang sebenarnya orang pun tak tahu dan belum tentu peduli, tapi kita sendiri yang membuka hal tersebut dengan menuliskannya di socmed-socmed kita.
Permusuhannya dengan orang lain, foto buruk di masa lalu, dan lainnya.. adalah hal yang tak perlu dipublikasikan jika tiada pelajaran di dalamnya.
Adanya sosial media tidaklah kemudian menghilangkan kaidah hidup kita sebagai kaum muslimin..
Yaitu menjaga marwah diri, kehormatan keluarga dan agama.
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bercerita, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Alloh telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Alloh tersebut.” (HR. Bukhari 6069)
Kita semua pasti punya sisi lemah..
Demikian dengan saya. Tetaplah manusia biasa yang lebih banyak buruknya. Pandainya menampakkan yang baik-baik saja juga adalah bagian dari akhlakul karimah.
Jangan biarkan orang tahu sisi burukmu melalui dirimu sendiri. Andai suatu terbuka karena kehendak Alloh, itu perkara lain. Artinya Alloh memang tak lagi menutup aib-aib kita. Itu wilayah ketetapan Alloh. Barangkali karena sudah saking keterlaluannya kita sampai-sampai Alloh tak lagi berkenan menjaganya.
Namun menjaga aib..
Menjaga apa yang seharusnya tidak perlu kita posting, apa yang seharusnya tidak kita tunjukkan.. itu adalah sebuah keharusan.
Menampilkan kebaikan sebagai upaya menampakkan nikmat Alloh adalah cara hidup seorang muslim..
Masak sih?? Coba perhatikan ini.
Alloh dan RasulNya menyuruh kita memakai baju yang bersih, indah, dan menutupi aurat. Apakah untuk melakukan itu hati harus bersih dulu?? Tidak.
Justru karena kita baru belajar memperbaiki akhlak, maka memperbaiki penampilan akan teramat sangat membantu agar orang lain mulai nyaman dengan kita.
Kebayang mau ngajak dakwah tapi pakai kaos preman, celana sobek, lengan tatoan dibiarkan terbuka.. tentu orang akan takut duluan. Maka setidaknya, tatonya ditutup, baju dan celana rapi, ditambah rambut disisir rapi plus pakai minyak wangi. Kalau mau mewah ya pakai minyak goreng, mumpung mahal. Hehehe.. (canda..)
Contoh lain lagi..
Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam menyuruh kita untuk tersenyum di hadapan orang lain. Apakah untuk melakukan itu dipersyaratkan hati harus bahagia??
Tidak...!! Mungkin hati memang sedang gelisah dan murung. Tapi tetap tersenyum saat menemui orang lain, itu adalah sunnah.
Karena kemuliaanmu tergantung dari caramu menyembunyikan keburukan serta menampakkan kebaikan.
Termasuk dalam hal ini juga adalah kemampuanmu menyembunyikan kesulitan.
Imam Syafi'i Rahimahullah Ta'ala pernah berkata, bahwa kehebatan manusia itu ada pada 3 perkara.
1. Kemampuannya menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta, dan selalu merasa syukur.
2. Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha, karena tampak wajah yang ceria.
3. Dan kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang, karena tertutup dengan amal sholeh.
Mari menjaga diri..
Tidak semua hidupmu harus diposting.
Jadilah lautan yang indah di permukaan.. meski dalamnya penuh dengan keadaan tak terduga. Namun karena itulah.. banyak orang yang menyukainya dan tak ternilai kedudukannya.
Jangan menjadi seperti akuarium.. yang semua sisinya bisa terlihat. Sehingga lama-lama orang akan bosan dan nilainya pun rendah.