Nafsu itu ada agar kita bisa melihat keindahan..
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali 'Imran :14)
Ayat ini diawali dengan "Zuyyina" yang akarnya sama dengan zaynan-zana-zinan-zinatun, yang artinya bisa diperindah, hiasan atau (dijadikan) perhiasan.
Nafsu yang diberikan kepada manusia, sejatinya berfungsi untuk membuat manusia jadi lebih indah. Dan karena nafsu itulah, kita manusia jadi berkembang dan memiliki peradaban.
Adanya pakaian yang indah-indah, adanya makanan yang baik, adanya rumah, gedung tinggi, kendaraan, teknologi, seni, dan beragam keindahan dalam peradaban manusia, adalah buah dari adanya nafsu di dalam jiwanya manusia.
Andai manusia diciptakan tanpa nafsu, pastilah dunia itu begitu monoton, dan membosankan. Sebab tidak ada gairah/hasrat untuk mencapai sesuatu yang lebih. Maka pada dasarnya, nafsu yang Alloh berikan kepada kita memiliki tujuan yang sangat baik.
Masalahnya, ada sebagian manusia yang hidupnya justru dikendalikan oleh nafsunya. Bukannya memperindah, namun malah merusak. Dan ini yang kemudian membuat Alloh dan RasulNya memberikan perintah kepada kita untuk senantiasa mengendalikan nafsu.
Lalu bagaimana caranya agar Nafsu tidak menjadi perusak badan dan kehidupan?
maka jawabannya sudah jelas, kembalikan nafsu kepada fungsinya. Yaitu sebagai perhiasan.
Perhiasan itu pada dasarnya tidak salah. Yang jadi sebab salah adalah ketika kita tidak tahu kapan dipakainya, dan dimana dipakainya perhiasan itu. Memakai perhiasan di waktu yang tidak tepat, dan di tempat yang salah justru akan merepotkan.
Pakai jas di kondangan mungkin masih pantes, tapi kalau pakai jas saat hendak pergi tidur, tentu malah merepotkan diri.
Jam Tangan dipakai di tangan, ini benar. Tapi jam tangan kok di pakai di leher, tentu menyusahkan.. meski harganya mahal sekalipun.
Islam mengajarkan kita untuk memakai perhiasan (baca: Nafsu) pada koridor yang disediakan.
Ada pernikahan sebagai tempat menyalurkan nafsu seksual. Bukan Zina.
Ada perdagangan sebagai tempat menyalurkan nafsu mencari harta. Bukan korupsi atau maling. Dan seterusnya..
Dan lebih jauh dari itu, sebenarnya.. ada lagi satu hal yang lebih penting untuk dilakukan jika kita tidak ingin dikendalikan oleh nafsu.
Yaitu, JANGAN TERLALU BANYAK MEMBERIKAN SYARAT PADA KEBAHAGIAAN.
Kawan.. Saya melihat betapa banyak orang yang sengsara dan dikendalikan oleh nafsu yang mengerikan, lantaran dirinya terlalu banyak memberikan syarat kepada kebahagiaan.
Contoh sederhana begini..
Jika ingin makan enak, maka sederhanakan syaratnya. Selama itu halal, thoyib dan memenuhi kebutuhan tubuh. Maka seharusnya itu menjadi cukup bagi sebab kita bersyukur dan menikmati makanan.
Namun sayangnya, ada banyak orang yang mensyaratkan makan enak harus dari rasanya, bahannya yang berkualitas tinggi, atau bahkan dari harganya yang harus mahal, plus diolah di rumah makan yang mewah. Alhasil, hanya untuk makan enak, ia mengeluarkan banyak uang dan berujung pada kemubaziran.
Sementara ada saudara kita di beberapa tempat, asalkan ada nasi dan lauk seadanya. Itu adalah “Makan enak”, sebab daging tak selalu terbeli, dan makan di restoran mewah pun bahkan mungkin tak pernah terpikirkan.
Ada orang yang untuk bisa bahagia, rumahnya harus besar dan mewah, bajunya harus bagus dan mahal, kendaraannya pun harus merk tertentu. Ini yang membuat akhirnya hidup dikendalikan oleh Nafsu, selalu memburu kebahagiaan dengan syarat yang berlebihan.
Padahal, nyamannya rumah adalah karena keakraban dan kehangatan yang diciptakan penghuninya.
Pakaian yang baik adalah yang menutup aurat dan nyaman dipakai.
Kendaraan yang baik adalah yang bisa mengantarkan ke tempat-tempat baik dan berfungsi sesuai fungsinya.
Bahkan, istrimu atau suamimu pun, akan menjadi sebab kesyukuran yang besar jika kita tidak terlalu memberikan syarat yang berlebihan kepadanya.
Tidak harus dari keluarga terhormat, yang penting ia sholat. Tidak harus yang bergaji besar, yang terpenting ia bertanggung jawab.
Tidak harus yang cantiknya seperti bidadari, asalkan bisa menjaga martabat keluarga dan suami tatkala ditinggal pergi, itu sudah amat cukup.
Orang yang tidak membiarkan kebahagiaannya diikuti oleh banyak syarat, akan selalu dengan mudah menemukan kebahagiaan itu sendiri.
Suami atau istrimu yang kadang "nyebelin" itu.. adalah yang tiap malam dirindukan oleh yang belum punya jodoh.
Anak-anak yang berisik dan kadang bikin marah itu.. adalah yang tiap hari dan selama bertahun-tahun dibawa dalam doa oleh mereka yang mandul.
Rumahmu yang sempit itu.. adalah yang diimpikan oleh mereka yang masih ngontrak.
Kerjaan yang bikin capek itu.. adalah yang terus dicari oleh mereka yang nganggur.
Dan banyak lagi hal yang barangkali saat ini kita terus keluhkan.. ternyara itu adalah apa yang diharapkan untuk dimiliki oleh orang lain.
Maka bersyukurlah dan sederhanakan syarat agar yang ada jadi nampak terasa. Dan diri jadi tidak dikendalikan nafsu.