Tadi, ketika saya bikin status tentang pentingnya ngaji sebagai bekal rumah tangga. Ada yang protes bahwa baiknya rumahtangga tidak ada kaitannya dengan ngaji.
(Screenshoot nya saya sertakan.. sesuai urutan.)
Saya sudah menghentikan perdebatan, sebab kalau cuma balas-balasan tak ada selesainya. Saya memutuskan menulis tuntas di sini saja.
Kenapa saya menulis ini dan membahas ini. Sebenarnya saya ingin menghentikan dengan memintanya datang saja ke rumah untuk diskusi terbuka. Tapi pemikirannya terus digaungkan.
Maka sebagai yang diamanahi sedikit ilmu, saya wajib mengimbangi agar umat tidak bingung.
Sebab.. akhirnya sampai ada yang ikut komen membenarkan pemikirannya. (Seperti SS no.4)
Itu baru satu.. kalau dibiarkan. Nanti jadi banyak pengikut paham keliru seperti ini.
Bismillah... ini ulasannya.
***********************
Kawan-kawan, saya meyakini.. bahwa ilmu agama sangat dekat kaitannya dengan urusan rumah tangga. Sebab menikah itu adalah ibadah. Dan semua ibadah, pasti harus pakai ilmu dan ada ilmunya.
Termasuk dalam urusan rumah tangga. Nikahnya pakai syariat Islam, maka merawatnya juga harus pakai syariat. Bahkan menyelesaikan persoalan dalam rumah tangga pun (jika ada) harus pakai syariat.
Dan kalau tiba-tiba ada yang komen..
Nggak ada kaitannya ngaji dengan langgengnya rumah tangga. Ini tergantung sudut ilmu mana yang dipakai??
Kalau pakainya ilmu Qur'an, nggak akan bilang begitu. Sebab langgeng itu tidak cuma di dunia kata Al Qur'an.. tapi harus sampai di akhirat.
"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. At-Tur: 21)
Lihat.... langgeng itu tidak cuma dunia. Kalau langgeng di dunia itu rumusnya gampang.
Saling ngalah, kalau ada yang salah segera minta maaf, ada masalah dianggap nggak ada, kasih nafkah cukup bahkan sedikit lebih banyak, istri kasih ART biar tak capek, biarkan istri me time dan ikut sosialita, tiap bulan transfer tidak telat, cemburu dikit diabaikan, sering jalan dan kasih hadiah.. insyaallah keluarga ini bisa langgeng dunia.
Tapi langgeng sampai akhirat butuh syarat..
Kata Alloh di ayat 21 surat At tur di atas.
1. Syaratnya beriman
2. anak cucunya (keluarganya) mengikuti iman ayahnya
Artinya, kalau mau terus berkumpul di surgaNya Alloh.. sang ayah punya tanggung jawab mendidik keluarganya untuk beriman kepada Alloh. Nah.. bagaimana bisa mendidik kalau ilmu agama saja tidak punya.
Bagaimana bisa membuat anak istrinya bercita-cita surga kalau ciri-ciri penghuni surga saja tak tahu.
Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam bersabda..
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084)
Hadits di atas bermakna :
1. Agama itu penting dijadikan dasar menikah
2. Kalau tidak pakai agama, akan banyak fitnah dan kerusakan.
Jadi yang bilang rumah tangga rusak kalau tidak ngaji (belajar agama) itu bukan saya ya.. tapi Rasulullah.
**********************
Dan tujuan pernikahan itu.. wa ja'alna lil muttaqina imamma.
"Jadikan kami pemimpin orang bertakwa.."
Kata guru saya.. kalau mau berkeluarga, itu harus bercita-cita mendidik calon ulama di rumah kita. Kalau pun tak bisa, didiklah anak yang nantiny memudahkan urusan para ulama.
Maka punya ilmu agama (Ngaji) ini penting betul untuk tujuan besar rumahtangga.
*************************
Ditambah lagi.. dengan konyolnya memberi contoh Ustadz yang kawin cerai. (Gambar SS no.2)
Pertanyaannya?? sejak kapan cerai itu jadi perkara yang diharamkan.
Islam itu realistis, kalau memang dalam rumahtangga, ada perkara yang jika tetap dipaksa bersatu semakin merusak keduanya. Maka dibolehkan bercerai, meski itu adalah perkara yang paling akhir untuk dipilih.
Alloh membenci perceraian, salah satu hikmahnya agar kita tidak gegabah dan menganggap remeh urusan nikah. Akhirnya dengan gampangnya cerai karena sekedar pertengkaran kecil dan alasan tak cocok atau tak lagi cinta. Ini maksudnya.
Namun ada perceraian yang dibolehkan, jika memang banyak mudharatnya.
Kalau kemudian menikah lagi ya boleh saja. Masak di sisa hidup harus tersiksa dengan nafsu?? Selama caranya halal, kenapa dipermasalahkan??
Kita ini kelewatan memang dalam beragama..
Kalau ada ustadz yang poligami tapi keluarganya baik-baik saja, anaknya rukun-rukun, anak-anaknya sholeh hafidz Qur'an. Istrinya saling ridho, suaminya berlaku baik kepada keduanya. Tidak sembunyi-sembunyi. Eh.. tidak pernah diangkat dijadikan teladan.
Tapi sekali ada ustadz yang cerai.. hebohnya bukan kepalang. Dikuliti semua keburukannya seolah tidak ada kebaikannya. Jadi gunjingan dan pembenaran, "Ustadz yang tahu agama aja nggak baik.."
Kawan..
Segala sesuatu di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Kalau semua terlalu sempurna, maka iman justru akan rusak. Jika ada orang yang sempurna tanpa cacat, maka ia bisa dianggap sebagai nabi. Maka dalam memandang siapapun, lihat yang baik saja.
Ustadz itu bukan untuk dijadikan standar hidup, tapi ambil ilmunya. Kalau mau standar hidup, ambil contoh dari kehidupan Rasulullah dan salafus shalih. Itu saja.. semua ulama sepakat 3 generasi itu yang terbaik. Selebihnya, pasti ada kurangnya.
Kenapa saya sampai mau membahas ini. Biasanya saya kalem saja.
Sebab pertanyaan ini akan bisa jadi sebab rusaknya pemikiran dan rusaknya iman.
"Ustadz aja kawin cerai, berarti yang ilmu agamnya tinggi belum tentu rumah tangganya baik..??"
Ini bahaya betul..
Nanti muncul lagi,, "Itu nggak sholat nggak sedekah, tapi kaya?? jadi nggak usah sholat aja."
Atau, "Itu orang rajin olahraga, tapi kena serangan jantung juga.."
Dari zaman dulu, manusia itu mengerti hukum moral tidak tertulis, bahwa semua yang jelek, tidak boleh jadi standar kebaikan. Kalau semua yang jelek dan berhasil boleh dijadikan contoh..
Maka para guru akan berkata, "Nggak usah belajar, sebab ada kakak kelasmu yang nggak pernah belajar dan hobinya nyontek, lulus juga dan nilainya bagus". Alhasil sekolah tutup.
Di dunia ini memang selalu ada yang berbeda..
Yang tak sholat tapi kaya,.
Tak ngaji, tapi keluarga harmonis.
Yang konsumsi banyak keburukan tapi sehat.
Semua itu ada hikmahnya..
1. Untuk menunjukkan ke kita bahwa Alloh itu bebas dari hukum sebab akibat. Kalau Alloh yang menghendaki, apapun bisa terjadi meski tanpa sebab sekalipun.
2. Kita tak pernah tahu apa yang tidak kita lihat.. bisa jadi semua kebaikan itu dikompensasi oleh Alloh dengan sesuatu yang diambil dri hidupnya.
3. Bahwa hidup ini tidak hanya mengejar dunia saja. Kaya tapi tak dapat ridho Alloh, itu musibah. Harmonis, tapi hanya sampai di dunia, itu percuma. Sehat, tapi malas ibadah karena makanan yang masuk buruk, itu celaka.
***************************
Dan lucunya.. orang-orang seperti ini tidak mau bicara ayat.. mainnya pengalaman. Kalau sudah pengalaman, bawa-bawa umur lagi. Padahal umur tak ada kaitannya dengan ilmu. Siapa yang belajar, ia akan dapat banyak. (SS no. 3)
Saya tidak berani berkata ilmu saya paling tinggi tentang pernikahan..
Namun Alhamdulillah kami diberi keluarga yang baik. Dan itu karena ada pondasi agama yang kami sepakati. Teman-teman yang pernah ketemu kami langsung, tahu betul hal itu kami terapkan.
Dan saya beritahu satu prinsip benar. Pengalaman itu bukan ukuran keberhasilan. Yang jadi ukuran keberhasilan itu KEMAHIRAN.
Pengalaman itu hanya berdasarkan 2 hal. Waktu dan Aktivitas. Kemahiran, itu 3 hal. Waktu, Aktivitas dan mau belajar dari apa yang dialami dan diambil inti sarinya.
10 tahun itu pengalaman tapi kalau tak punya ilmu inti, ya akan kalah dengan yang 3 tahun belajar tapi menyerap semua hal yang dialami selama 3 tahun dan memetodekan pengalamannya.
*******************************
Dan saya tetap berkeyakinan.. bahwa keberhasilan rumah tangga itu salah satu akibatnya adalah ilmu agama. Maka suami yang mau mengaji ilmu agama, akan lebih mudah membawa keluarganya menuju rumahtangga yang sakinah mawadah warrahmah.
Insyaallah yang punya ilmu agama pasti lebih baik keadaannya.
Setidaknya dengan itu (ilmu agama), kita bisa berusaha maksimal membaguskan rumah tangga.
Ibarat mau bertanding, persiapannya harus tetap yang terbaik. Kalau kemudian kalah, setidaknya kalah dengan ikhlas. Bukan kalah dengan penyesalah karena persiapannya kurang.
Dan tak ada ruginya belajar agama untuk bekal pernikahan..
Setidaknya pas gabut sama istri jadi bisa ngaji bareng, cerita kisah-kisah nabi dan para sahabat, diskusi bab Fiqh, ngobrolin masa depan anak-anak tentang peranan mereka dalam dakwah, lalu sama-sama bicara tentang impian sesurga bersama.
Saat ada masalah, merujuk kembali ke aturan agama, saat ada yang salah mau diingatkan dengan hukum Alloh dan RasulNya. Tahu hak dan kewajiban masing-masing dan menjalankannya sekuat tenaga.
kan indah??
Dan itu terjadi kalau keduanya sama-sama mau ngaji.
Sebagaimana kata Sayyidina Ali Karamallohu wajhah..
"Nikahkan anak perempuanmu dengan yang paham agama. Jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya. Jika dia tak lagi mencintai putrimu, setidaknya.. dia tak akan menzholiminya."
Gimana?? Masih nggak ada korelasi antara ngaji dengan bagusnya rumah tangga?
Maka saya menyerah dan mengaku kalah kalau berdebat dengan yang tidak punya dasar. Kalau hanya pakai asumsi pengalaman saja. Berat..
Nyerah aja dah.