Yang sulit itu bukan menjaga dari batalnya puasa, tapi yang sulit itu menjaga dari batalnya mendapatkan pahala puasa.
Sekedar menahan diri dari makan, minum dan syahwat.. mungkin bisa kita lakukan. Tapi menjaga dari "nakal" nya hati kepada orang lain.. itu yang kadang tak tertahan.
Menjaga hati tidak "mbatin" perilaku orang..
Menjaga hati dari tidak mudah mengomentari orang lain.
Menjaga hati dari tidak ngulik urusan orang lain, apalagi sampai hasad. Itu yang berat.
Ini PR puasa kita..
Bukan hanya badan yang puasa..
Tapi hati ikut puasa.
Puasa dari "nakal" kepada orang lain lewat prasangka..
Kita bisa menyuruh mulut tertutup rapat pada makanan dan minuman.
Tapi sulit menutup hati dari bereaksi atas perilaku orang lain.
Maka benarlah bahwa puasa itu dijadikan sebagai ukuran orang bertakwa.
Karena takwa itu letaknya di hati.
Sebagaimana pernah diinformasikan Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam..
"At taqwa-ha huna.."
"Takwa itu di sini.. (seraya beliau menunjuk dadanya tiga kali). (HR. Muslim)
Sebab puasa tidak hanya sekedar puasa badannya. Tapi yang lebih harus dilatih adalah puasa hatinya.
Agar hati bersih, maka tipsnya ada 3 saja :
1. Biasakan baik sangka ke setiap orang.
2. Belajar ikut senang dengan kesenangan orang lain.
3. Setiap melihat kebaikan atau keburukan.. jadikan bahan doa.
• kalau buruk.. "Ya Alloh, semoga aku tidak melakukan itu/ semoga aku tidak mendapatkan ujian seperti itu"
• kalau baik.. "Ya Alloh, semoga Engkau izinkan aku menerima seperti yang diterimanya/ seperti yang bisa dilakukannya"
Batal puasa di bulan Ramadhan bisa diganti di hari lain.. tapi kehilangan pahala di bulan ramadhan, tak akan kita temukan di bulan yang lain.
Jaga hati..Jaga hati.
Bersih hati..bersih hati.
Luaskan.. lapangkan.
Jadikan lembut.. Dan maafkan.