Kalau sudah tahu temenmu itu termasuk jenis yang toxic, jangan malah terus dibersamai..
Menjauh dan tinggalkan.
"Tapi kasihan tadz, nggak ada yang mau berteman sama dia kecuali saya.."
Salah nih kalau begini..
Jangan sampai kita kasihan dengan orang lain tapi tidak kasihan kepada diri sendiri, ini ya bahaya.
Sebagaimana peringatan Rasulullah bahwa seseorang itu terpengaruh dengan siapa temannya..
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”
(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Kalau dalam pepatah arab, dikatakan,
سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي
(Su'ul Khulqi Yu'dii)
"Kerusakan budi pekerti/akhlaq itu menular."
Maka, kalau nggak kuat-kuat mental. Bukannya bisa merubah, kita malah akan jadi ikut.
Bahkan, adakalanya orang-orang Toxic itu bertahan dengan ke-toxic-annya karena kita masih mau membersamainya dan mendengarkannya. Mereka merasa keburukannya itu ada yang mentolerir, ada yang menerima mereka.
Kalau terus berteman dengan mereka yang Toxic, setidaknya ada 3 kerugian :
1. Isi hatimu dipenuhi dengan keburukannya yang terus dipupuk dengan hasad.
2. Waktumu terbuang percuma untuk mendengarkan keluhan dan perkataan buruk tentang sesuatu dan lama-lama akan melemahkan mentalmu.
3. Cepat lelah karena energi positifmu terhisap oleh energi negatifnya. Hasilnya, kita pun lama-lama mengikuti kebiasaannya.
Oleh sebab itu kawan, dalam pertemanan apalagi urusan percintaan.
Jangan pernah punya prinsip, "Aku terima kamu apa adanya".
No.. Big No..!!
Menerima orang lain untuk masuk dalam kehidupan kita itu harus punya prinsip sebagai Filter.
Coba lihat saat kita hendak masuk ke Mall atau Hotel atau gedung pemerintahan atau bandara.
Mereka melakukan cek, deteksi, pemeriksaan kepada siapa yang akan masuk. Entah dengan X-Ray kah dan lain sejenisnya.
Apalagi zaman sekarang, setiap masuk ke satu bangunan wajib cek suhu badan dan menunjukkan kartu vaksin.
Bandara, hotel, mall atau apapun itu.. mereka menerima semua orang yang ingin masuk dan berkunjung, namun mereka memberlakukan filter ke siapa saja yang benar-benar boleh masuk ke wilayah mereka.
Padahal, kalau kita pikir-pikir, kita berkunjung ke tempat-tempat tadi itu hanya sebentar dan sementara.
Namun mereka menggunakan filter yang sedemikian ketatnya demi keamanan mereka dan orang lain yang berada di dalamnya.
Kalau yang sebentar saja pakai Filter pengamanan..
Bagaimana bisa antum membiarkan orang yang akan masuk ke kehidupanmu untuk waktu yang lama tanpa Syarat dan kondisi khusus??
Dan dengan mudahnya berkata, "Aku menerimamu apa adanya"
Maka, berlakukanlah syarat kepada mereka yang akan masuk ke dalam hidupmu.
Teman dekat, mitra bisnis.. apalagi yang akan jadi pasangan hidup. Ini wajib banget diberi syarat.
Kalau mau dekat dan masuk dalam hidup saya, harus mau begini dan begitu.
Ubah kebiasaan buruk, dan rawat kebiasaan baik.
Baru aku izinkan jadi temanku, aku izinkan jadi pasangan hidupku..
ciee.. Gitu baru cakep..!!
Berani berikan syarat. Paksa memenuhi syarat, atau tinggalkan jika tak mau.
Jangan pernah berprinsip menerima "Apa adanya" karena alasan cinta. Basi ini sih.. ketinggalan zaman.
Kalau hidupmu rusak, rumah tanggamu rusak, kita sendiri yang akan menyesal.
Kalau yang rusak hanya urusan dunia bisa dicari dan diperbaiki.
kalau sampai yang rusak urusan akhirat?? maka kita hanya bisa menyesalinya. Dan sudah tidak berguna.
“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)
Pasti ada yang nanya,
"Emang boleh meninggalkan orang yang buruk akhlak, bukankah harus didakwahi??"
Meninggalkan atau menjauhi orang yang buruk akhlak itu boleh demi menjaga diri.
Yang tidak diboleh ditinggalkan itu jika mereka adalah keluarga yang jadi tanggung jawab. Baik karena nasab atau karena jalur pernikahan.
Misal: Ayah kepada anak, suami kepada istri, kakak laki-laki kepada adik perempuan, dan seterusnya.
Ini wajib terus diupayakan sampai akhir hayat. Seperti Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam berjuang memahamkan Islam kepada paman dan kakeknya, terus sampai akhir hayat.
Tapi kalau orang lain.. setelah kita ingatkan sekuat tenaga tak kunjung berubah, maka boleh kita meninggalkannya. Lalu doakan, semoga Alloh memberikannya hidayah.
Karena tugas kita hanyalah mengingatkan, bukan memastikan.
Sebab, jika kita tak kuat ilmu dan mental, alih-alih mengubahnya ke arah yang baik, kita yang akan terseret ikut jadi Toxic juga.