Menjadi seorang mukmin itu berarti bersiap untuk tidak kecewa. Minimal berkomitmen untuk belajar tidak mudah kecewa.
Karena bagian dari syarat disebut beriman adalah mengimani Alloh dengan segala sifatnya dan juga takdir Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Bagaimana mungkin kita mengimani Alloh yang memiliki sifat Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mengetahui, Maha Lembut, Maha Menjaga dan nama-nama baik lainnya, tapi masih berprasangka buruk dengan apa yang Alloh tetapkan untuk hidup kita..??
Bagaimana bisa kita mengaku iman kepada Alloh yang Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Mencintai, Maha Mencukupkan.. tapi tak suka dan marah dengan takdirNya??
Menjadi mukmin itu bukan hanya tentang Tauhid, sholat, puasa dan bersedekah.
Menjadi mukmin itu juga berarti senantiasa melatih diri untuk tidak kecewa kepada Alloh atas segala yang diatur dan ditetapkan oleh-Nya.
"Bismillah.. pokoke manut ya Alloh."
"Insyaallah.. hamba ridho ya Alloh."
(Sambil mewek.. hehehe)
Ya nggak papa.. itu bagian dari proses beriman.
Pokoknya jangan sampai gampang kecewa dalam hidup.
Selalu berucap syukur alhamdulillah.
Selalu berbaiksangka kepada Alloh.
Selalu menerima dengan lapang dada.
Selalu menjalani dengan ikhlas.
Dan terus bersabar meski yang nampak di depan mata kadang bikin gemes ke arah jengkel, gregetan sampai nangis, atau bikin pingin gigit sambil disumpah serapah dan dikunyag-kunyah.
Tapi sekali lagi..
Sudah jadi mukmin. Sudah memutuskan beriman. Ingat..!! Apapun yang sudah terjadi itu takdir Alloh juga. Apapun yang menjadi takdirnya ia ridho.
Mukmin itu hanya memegang prinsip ini..
Bahwa setiap yang Alloh tetapkan untuk hambaNya, pasti baik, atau lebih baik, atau baik banget.
ٱلَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا
"(Alloh-lah) yang memiliki kerajaan langit dan Bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat." (QS. Al-Furqan: 2)