Kadang, menjadi keluarga yang bahagia itu tidak selalu identik dengan semua hal yang terpenuhi atau ideal keadaannya.
Saya banyak menyaksikan dan belajar..
Ternyata, lebih banyak keluarga yang bahagia itu dimulai dari 3 hal.
1. Saling berniat membantu urusan satu sama lain.
Hal paling mencolok yang saya lihat dari mereka yang berhasil menciptakan keluarga bahagia adalah hal ini..
Semua punya keinginan besar untuk membantu urusan satu sama lain.
Istri membantu kerepotan suaminya.
Suami pun tak gengsi membantu pekerjaan istri.
Anak dilatih biasa membantu orangtua, dan orangtua pun memberikan teladan untuk mudah membantu kesulitan anggota keluarga.
Semua punya prinsip, kalau suatu pekerjaan bisa lebih cepat beres karena saling membantu, ayo kita lakukan.
Karena seringkali.. Keluarga yang jauh dari bahagia disebabkan adanya pihak yang merasa terlalu berat bebannya. Merasa sendirian dan tak ada yang mau mengerti. Apalagi mau membantunya.
2. Ada kesempatan ngobrol yang disengaja.
Banyak sekali rumah tangga atau keluarga yang tidak memberikan waktu di dalam rumah untuk ngobrol.
Rumah hanya jadi tempat transit. Saling sapa ala kadarnya. Setelah itu, sibuk dengan urusan masing-masing.
Dan inilah sebab hancurnya ikatan yang menyebabkan jauhnya kebahagiaan.
Keluarga bahagia itu kuat dalam ikatan. Dan kuatnya ikatan dibangun dari obrolan mendalam yang disengaja. Ingat.. "Yang disengaja".
Bukan setelah ada masalah baru bicara. Setelah emosi baru ngomong.. "aku tuh nggak suka bla..bla..". Kemarin kemana aja??
Obrolan dalam keluarga itu berperan penting laksana meeting dalam sebuah project. Makin sering ngobrol, makin Clear arah tujuan. Dan makin mudah bahagianya.
Karenanya.. Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling seneng berbincang dengan istrinya dan siap mendengarkan keluhan istrinya.
3. Tidak banyak pihak luar yang tahu urusan di dalam rumah tangga.
Tidak mudah cerita masalah di dalam rumah, adalah sebab mudahnya bahagia.
Karena ada lebih banyak masalah yang sebenarnya cepat selesai ketika cukup dihadapi berdua saja. Yang berkepentingan saja.
Begitu pihak lain ikut terlibat, terlebih mereka bukan orang alim nan bijaksana. Maka di saat itulah masalah rumah tanggamu membesar dan menyebar.