Bahwa akhirnya saya kembali belajar..
Salah satu sebab rumah tangga yang sehat adalah, jangan melibatkan orang lain terlalu banyak di dalamnya.
Semakin banyak orang yang terlibat dalam rumah tangga kita, akan semakin besar pula potensi terguncangnya bahtera rumah tangga.
Karena yang terlibat dalam keputusan jadi semakin banyak, yang memberi pertimbangan semakin banyak, yang berkepentingan semakin banyak.
Belum lagi ditambah urusan rumah tangga kita bisa jadi konsumsi banyak orang, disaksikan banyak orang dan dikomentari banyak orang.
Masalah kecil jadi besar.. bukan karena wujud masalahnya. Tapi karena tak tahan dengan komentar yang berseliweran di saat kita sebenarnya tak lagi menganggap hal tersebut sebagai persoalan.
Berumahtangga itu berarti siap menghadapi ujian hidup berdua.
Seperti apapun halangan dan rintangan, asal keduanya sepakat dan sepaham, pasti insyaallah bisa menghadapinya.
Asal sevisi dan setujuan..
Mau seberapa jauh dan seberapa pun sulit pun, jalannya pasti ditempuh juga. Karena sedari awal sudah sepakat melaluinya berdua.
Namun ketika ada pihak-pihak lain yang diikutsertakan. Bersiaplah keseimbangan akan mulai goyah. Karena tidak semua orang punya kekuatan yang sama besarnya.
Dan seringkali, mereka yang terlibat selalu lebih condong ke salah satu pihak karena latar belakang hubungan kerabat, masa lalu atau kepentingan tersendiri.
Ini bukan hanya tentang perkara negatif saja lho ya (seperti sikap toxic dan sejenisnya..)
Bahkan untuk hal yang nampaknya positif pun, akan memiliki dampak yang sama pula.
Betapa banyak rasa sayang seorang ibu kepada anaknya yang sudah menikah, jadi sebabnya mengkritik perilaku menantunya yang dirasa itu tak baik bagi anak kesayangannya. Yang berujung pada renggangnya hubungan.
Padahal mungkin saja di antara suami istri hal tersebut sudah jadi kesepakatan dan sama-sama sudah ridho.
Adik yang terlalu sayang dengan kakaknya jadi sebab munculnya dinding berjarak di antara suami dan istri.
Tak sedikit metode parenting yang ingin diterapkan berakhir gagal sebab apa yang sedang dirancang kedua orangtua seketika hancur lebur saat kakek dan nenek tiba memanjakan cucunya.
Karenanya.. ketika sudah menikah, pandai-pandailah menentukan batas territory-mu. Mana yang harus dibagi, dan mana yang harus disimpan untuk berdua saja.
Mana kebahagiaan yang harus dibagikan..
Dan mana kesulitan internal yang hanya cukup diketahui berdua.
Jaga keinginan Melacur alias Melakukan Curhat.. (hehehehe) kepada semua orang atas semua kejadian.
Tahan diri..
Selesaikan dulu berdua. Jangan kemana-mana.
Kalau dirasa sudah diujung bahaya.. baru cari pihak ketiga yang bijaksana untuk jadi penengah di antara antum berdua.
Berikan batas yang jelas..
Kapan orang lain boleh masuk.. dan kapan orang lain tetap harus berada di luar.
Wong terkadang niat pingin romantis makan sepiring berdua saja..
Kalau yang melihat orang lain yang tak tahu sebab musababnya, bisa dikira sedang nggak punya duit buat makan. Sampai-sampai harus hemat ekstrem dengan makan sepiring berdua.
Niat hati nyucinya nanti siang saja karena suatu alasan.
Gara-gara tumpukkan baju kotor dilihat orang lain, alhasil jadi asumsi bahwa dikiranya sang istri adalah sosok pemalas.
Jangan hancurkan sendiri Rumahtanggamu hanya karena kau tak bisa melepaskan diri dari orang-orang di sekitarmu.
Bukan berarti harus memutus silaturahim. Tapi ini semua tentang menjaga hati belahan jiwamu, dan tentang menghormati haknya sebagai pasangan hidupmu.