Seringnya.. cara pandang kita terhadap kebahagiaan itu terlalu jauh dan terlalu kompleks.
Kita seringkali melihat kebahagiaan itu ada pada apa-apa yang orang lain miliki. Pada apa-apa yang orang lain bisa capai dalam hidupnya.
Kita seringkali mengejar kebahagiaan dengan syaratnya yang rumit dan bernomor.
Kalau punya pasangan harus yang begini.
Kalau punya pekerjaan harus yang seperti ini.
Padahal kebahagiaan itu dekat dan sederhana..
Ia dekat.. sebab ada di dalam hati kita sendiri selama kita bersyukur.
Dan kebahagiaan itu amat mudah.. ketika bagimu syarat nikmat tak lagi penting, yang terpenting adalah darimana nikmat ini berasal. Yaitu dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Kalau sudah sadar bahwa itu dari Alloh..
Kita akan bahagia kemana pun membawanya.
Saya seringkali mencontohkannya dengan sebuah bolpoin. Barang yang murah.. yang seringkali ketika hilang, kita tidak terlalu ambil pusing.
Kalau sudah habis.. kita dengan entengnya bisa membuangnya kapan saja. Tak ada yang istimewa.
Tapi beda cerita jika bolpoin yang serupa tadi, diperoleh langsung dari Imam Besar Masjidil Harom, Imam Sudais ketika antum melakukan perjalanan umroh.
Saya yakin.. bolpoin yang mungkin biasa saja pun akan terasa istimewa.
Habis tintanya tak akan dibuang. Antum akan simpan di tempat terbaik. Senengnya luar biasa. Girang betul..
Bahkan.. setiap kali ada yang berkunjung ke rumah. Antum akan ceritakan sejarah bolpoin itu.
Yang diceritakan bukan lagi merknya, atau harganya atau kualitasnya. Tapi.. siapa yang memberikannya.
Orang yang sadar bahwa semua nikmat yang diperoleh hari ini adalah bersumber dari Alloh ﷻ, dia tak akan lagi risau dengan wujudnya, nilainya atau apapun itu.. dia hanya peduli tentang siapa yang memberi. Dan itu cukup membuatnya BAHAGIA.
فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"