Beragam isu beredar di timeline kita..
Mulai dari urusan rumah tangga orang, saling sindir antar penggerak kebaikan, aib si fulan dan fulan, atau apapun..
Saran saya ke kawan-kawan..
Abaikan..!
Tidak semua harus diketahui.
Karena makin banyak tahu biasanya akan membuat hati kian gelisah dan tak nyaman.
Ibnu Arabi mengatakan.. "Senanglah jika tidak mengetahui keburukan orang lain, dan gelisahlah jika sampai melihat keburukan orang lain. Sebab semua keburukan itu, juga ada pada dirimu".
Rasa ingin tahu itu baik.. tapi tidak untuk urusan aib. Tahu aib orang itu berat..
Sebab tahu, biasanya jadi cenderung pingin menceritakan.
Kalau sudah cerita.. ujungnya 2, kalau tidak ghibah ya fitnah.. dua-duanya berat pertanggungjawabannya.
Terlepas dari keduanya.. biasanya jadi benci dan tak lagi punya rasa hormat.
Maka doa sebagian penuntut ilmu zaman dulu adalah..
"Ya Alloh.. tutuplah aib guruku dari diriku.."
Ini karena mereka ingin belajar dengan tuntas tanpa diganggu oleh hatinya.
Karena kita cenderung bisa langsung membenci seseorang karena satu dosa, padahal dosa itu masih sekedar kamu kira.
Tetapi anehnya.. kita tidak membenci diri sendiri, padahal kita lebih tahu dengan yakin dan pasti segala dosa yang pernah kita lakukan..
Maka kunci keselamatan adalah membatasi telinga dan mata dari tahu aib dan urusan orang lain.
Perlu nampaknya kita merenungkan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu..
"Aku telah mencari kenyamanan untuk diriku, maka aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih nyaman daripada meninggalkan apa yang bukan menjadi urusanku."
Karena seringkali..
Kesalahan terburuk kita adalah ketertarikan kita pada kesalahan orang lain.
Jangan selalu ingin ngurusin orang lain.. sebab belum tentu orang lain pingin kurus.
Sayangi dirimu.. Dan sayangi ususmu.