Kalau sudah disebut dewasa, umur sudah banyak. Terlebih sudah punya anak..
Maka sudah saatnya mementingkan ketenangan daripada kesenangan.
Maksiat itu menyenangkan.. tapi pasti tidak menenangkan.
Bohong itu menyenangkan.. tapi pasti tidak menenangkan.
Selingkuh itu menyenangkan.. tapi pasti tidak memberi ketenangan.
Tidak ada kombinasi terbaik untuk menjalani hidup ini selain pikiran yang jernih, hati yang lapang dan jiwa yang tenang.
Saat ketiganya berada dalam tubuhmu.. semua hal akan bisa kamu lalui dengan baik, nyaman dan positif. Semua hal..
Mau itu kemudahan, ataupun kesulitan..
Seorang alim pernah memberi nasihat kepada saya bahwa..
Intinya seni menjalani hidup itu adalah tidak kagetan. Tidak panik. Dan tidak grasa-grusu selama itu perkara dunia..
Kalau urusan itu masalah dunia.. jangan sampai menyempitkan hati.
Ajak longgar, setel kendo.
Jangan kenceng terus.
Bahkan saat sholat saja kita disuruh ada jeda untuk tenang sejenak.. Tuma'ninah namanya.
Ini jelas-jelas sholat yang urusannya sama Alloh langsung.
Apalagi cuma perkara dunia.. ambil jeda, supaya tenang dan bisa jernih bertindak.
Terlebih dalam urusan rumah tangga..
Jangan cari senangnya sendiri. Nanti malah jadi tidak tenang. Padahal rumah tangga itu untuk mencari sakinah (ketenangan).
Kalau pingin rumah tanggamu tenang.. jangan biasakan mau senangnya sendiri.
Pikirkan pasangan dan anak sebelum melakukan sesuatu.
Kesenangannya sesaat.. gelisahnya sepanjang waktu.
Hargai yang masih ada.. syukuri.
Dan sabarlah dengan sesuatu yang akan datang menghampiri.
Karena kalau ada yang pergi (hilang).. pasti ada yang datang (lagi). Itu sudah rumus..
Yang hilang ya sudah.. Yang pergi ya biarlah.
Cari tenang.. jangan cari senang.
Kalau senang belum tentu tenang.. tapi kalau tenang, insyaallah mudah senang.
Dan tenangnya hati dimulai dari biasa jujur dengan orang yang paling sering membersamaimu.