Yang menentukan keberhasilan dan kesuksesan seorang hamba di dunia itu bukan hanya karena ilmunya saja.
Tapi juga dipengaruhi oleh keadaan batinnya.
Seorang yang punya ilmu, namun hatinya selalu merasa lebih baik dari orang lain. Hatinya selalu benci dengan orang yang lebih baik darinya.
Hatinya selalu ingin menjatuhkan orang lain yang nampaknya bisa mengganggu eksistensi dirinya.
Maka biasanya, yang model begini.. mau setinggi apapun ilmunya, akan selalu jatuh pada akhirnya.
Hati yang tidak bersih. Batin yang jauh dari kasih sayang, akan selalu berpikir mencari lawan untuk dijatuhkan. Energinya habis untuk mengalahkan. Bukan untuk mencari teman yang bisa diajak kolaborasi dan meningkatkan kekuatan.
Batin yang belum siap berkasih sayang, umur sukses dan kemuliaannya tak akan pernah panjang.
Maka dikatakan dalam sebuah nasihat hikmah..
"Lebih baik salah mencintai daripada salah membenci."
Salah mencintai itu tak apa..
Pahalamu sudah tercatat, perhatianmu ke dia yang kau cintai sudah sampai.
Mau kemudian tanggapannya seperti apa.. itu urusan dia dengan Alloh. Yang penting pilihan sikapmu mulia.
Perbuatanmu pun sudah jadi sebab sehatnya batin. Lega dan bahagia, sebab bisa memberi manfaat terlebih kepada yang dicintai.
Batin yang positif, penuh kasih.. Pikiran pun akan kreatif.
Jangan pernah menyesal sudah mencintai. Karena yang seharusnya menyesal adalah dia, sebab menyia-nyiakan orang yang mencintainya dengan tulus.
Tapi kalau sampai salah membenci, Itu fatal.
Yang dibenci belum tentu hina. Belum tentu seperti prasangka kita. Sementara yang membenci sudah pasti tercatat dosanya.
Dan lagi, perilaku pembenci itu menyempitkan batin.
Apa saja yang dilihat dengan hati penuh kebencian, pasti terasa menyiksa. Pikiran pun mudah buntu, tidak produktif dan manipulatif. Alhasil.. sukses kian menjauh.
Dan berujung pada keadaan hina sebab jejak kebencian sudah tercecer kemana-mana dan dimana-mana.